Tahukah kamu? Sebuah studi yang dilansir dari msdsonline.com menunjukkan bahwa lebih dari 190.000 pekerja di Amerika Serikat menderita penyakit akibat paparan bahan kimia berbahaya.

Tahukah kamu? Sebuah studi yang dilansir dari msdsonline.com menunjukkan bahwa lebih dari 190.000 pekerja di Amerika Serikat menderita penyakit akibat paparan bahan kimia berbahaya.

Bahan Berbahaya dan Beracun (B3)

Kita sadar bahwa bahan kimia berbahaya dan beracun (B3) tidak bisa dipisahkan dari kehidupan manusia. Selama beberapa dekade, penggunaan B3 di berbagai sektor, seperti industri, pertambangan, pertanian, dan kesehatan di Indonesia semakin meningkat. Dengan meningkatnya penggunaan B3 ini, satu hal yang ditakutkan adalah apabila pengelolaannya tidak dilakukan dengan baik.

Pengelolaan B3 yang tidak ditangani dengan baik dapat mengakibatkan keracunan, penyakit akibat kerja, pencemaran lingkungan, kerugian materi, dan bahkan bisa menimbulkan korban jiwa. Oleh karena itu, manajemen atau pengelolaan B3 dalam keselamatan dan kesehatan kerja (K3) merupakan aspek yang sangat penting dalam sebuah industri.

Pengelolaan B3 adalah kegiatan yang menghasilkan, mengangkut, mengedarkan, menyimpan, menggunakan, atau membuang B3. Pengelolaan B3 ini bertujuan untuk mencegah dan mengurangi risiko dampak B3 terhadap lingkungan hidup, kesehatan manusia, serta makhluk hidup lainnya.

Faktanya, banyak terjadinya kecelakaan dalam industri yang disebabkan oleh ketidaktahuan pekerja dalam mengelola B3 dengan benar. Kecelakaan yang berhubungan dengan B3 sering kali melibatkan tiga komponen, yakni manusia, prosedur/metode kerja, dan peralatan/bahan.

Pada dasarnya, sikap dan tingkah laku pekerja menjadi faktor penyebab kecelakaan kerja tertinggi. Hal ini dikarenakan keterbatasan pengetahuan/keterampilan pekerja, lalai dalam bekerja, tidak melaksanakan prosedur kerja sesuai petunjuk yang diberikan atau tidak disiplin menaati peraturan K3 termasuk pemakaian alat pelindung diri.

Mengingat faktor terbesar penyebab kecelakaan kerja adalah faktor manusia, maka upaya meningkatkan K3 dalam pengelolaan B3 perlu dilakukan. Pelaku bisnis atau pekerja harus sadar tentang pentingnya pelatihan Material Safety Data Sheet (MSDS) dan chemical handling untuk menghindari risiko kecelakaan kerja akibat paparan B3.

Apa itu MSDS?

MSDS adalah dokumen yang berisi tentang potensi bahaya yang meliputi kesehatan, kebakaran, reaktifitas dan juga lingkungan, serta cara bekerja dengan aman ketika berinteraksi dengan bahan kimia.

Setiap orang yang ingin menggunakan bahan kimia berbahaya harus mengerti tentang cara menyimpan, bahaya yang terkandung di dalamnya, cara penanganannya jika terjadi darurat cara pembuangan, dan lain sebagainya. Semua informasi tersebut dapat dilihat dalam MSDS.

Dengan memahami semua isi yang ada di dalam MSDS, perusahaan akan mendapatkan manfaat tentang bagaimana cara yang aman untuk penanganan

bahan dan dapat melakukan tindakan untuk menghindari kecelakaan di tempat kerja akibat pemakaiannya.

Bekerjalah dengan aman karena keluarga menanti di rumah.

Setiap pekerjaan memiliki bahaya dan risiko berbeda. Namun, di antara bahaya yang seringkali dibahas dalam K3, ada bahaya khusus yang hanya terjadi di laboratorium atau tempat-tempat yang menyimpan bahan berbahaya dan zat kimia.

Bahan berbahaya dan zat kimia merupakan material yang rentan menimbulkan percikan api maupun ledakan apabila tidak mendapatkan penanganan atau pengendalian khusus.

Pertanyaannya, bagaimana jika kita tidak sengaja menumpahkan bahan kimia tersebut? Jika terjadi hal seperti ini, maka kita harus melakukan penanganan zat kimia dengan cara yang baik dan benar. Inilah sebabnya kita perlu memahami tentang penanganan zat kimia.

Penanganan zat kimia harus dilakukan secara teliti dan hati-hati, karena jika tidak ditangani dengan benar dapat menyebabkan penyakit, luka, cacat maupun kematian.

Chemical handling (Penanganan Zat Kimia)

Perlu diketahui bahwa di Indonesia terdapat sejumlah kasus seperti keracunan uap yang dihasilkan dari bahan kimia. Hal tersebut terjadi karena adanya penguapan zat berbahaya secara perlahan, dikarenakan tumpahan zat kimia yang diabaikan. Kemudian, tumpahan zat kimia juga ada yang bersifat korosif, sehingga bila mengenai tubuh maupun material logam dan keramik akan segera rusak. Terlebih lagi apabila zat kimia yang tertumpah adalah zat yang mudah meledak atau terbakar, sehingga dampaknya cukup serius karena bisa menyebabkan kebakaran.

Contoh kasus lainnya, zat kimia yang tertumpah telah terkontaminasi oleh mikroba tertentu, khususnya pada bahan-bahan mikrobiologi sehingga dapat menyebabkan reaksi berantai di tempat pembuangan maupun meninggalkan bekas pada permukaan.

Untuk penanganan tumpahan zat kimia, tidak seperti penanganan sampah pada umumnya yang bisa dibuang ke tempat sampah biasa. Terkecuali limbah tersebut memang diketahui tidak berbahaya dan tidak mencemari lingkungan ataupun merusak alam, maka boleh saja langsung dibuang. Namun, kebanyakan dari limbah tersebut perlu penanganan lebih lanjut agar tidak mencemari lingkungan. Jadi, diperlukan pengetahuan dan pengalaman untuk mereduksi tingkat bahayanya.

Synergy Solusi (member of proxsis) sebagai perusahaan yang bergerak pada bidang HSE, keselamatan, kesehatan, keamanan, dan lingkungan siap mengantarkan perusahaan Anda untuk mencapai tujuan yang berkelanjutan. Anda siap berkonsultasi dengan ahli dan konsultan kami? Jangan ragu untuk menghubungi kami. Mari, berkolaborasi!

Sumber : https://www.safetysign.co.id/