Berita K3

Kurma merupakan tanaman palma (Arecaceae) dalam genus Phoenix dengan nama latin Phoenix dactylifera L. Tanaman ini diduga berasal dari dataran Mesopotamia, Palestina atau sekitar Afrika bagian Utara (Maroko) sekitar 4000 tahun sebelum Masehi dan tersebar ke kawasan Mesir, Afrika Asia Tengah dan sekitarnya sejak 3000 tahun sebelum Masehi. Menurut cerita Yunani kuno, asal muasal nama latin dari kurma (Phoenix) berasal dari mitologi burung api yang perkasa berasal dari Timur Jauh (far east), dimana bentuk fisik dari tanaman ini menyerupai sayap-sayap dari burung api yang diceritakan. Pada jaman kekuasaan Fir’aun (Pharao) Mesir, kurma telah mendapatkan tempat penting di masyarakat karena seluruh bagian dari tanaman ini dapat berguna.

Kurma merupakan salah satu tanaman yang turut disebutkan di dalam kitab suci Al-Qur’an, dengan total penyebutan mencapai 15 kali. Tanaman (dan buah) kurma disebutkan bersamaan dengan tanaman lainnya seperti anggur, jagung, zaitun sebagai indikasi bahwa semua ini memiliki pemanfaatan yang luas oleh manusia dari jaman ke jaman. Perlu dicermati adalah, di dalam nash Al-Qur’an tidak dideskripsikan keistimewaan kurma melebihi tanaman-tanaman lainnya (silakan lihat diantaranya pada Al An’am 99, 141; Kahf 32; Ta-Ha 71; Shuaraa 148; Ar Rahman 11,68; Qaf 10; An Nahl 11,67; dan Abasa 27-29).

Sehat Dengan Mengkonsumsi Kurma

Mengkonsumsi kurma sebagai makanan pembuka pada saat berbuka puasa ternyata bukan tanpa alasan. Penyerapan gula kurma di dalam tubuh cukup cepat, sekitar 45-60 menit, bila dibandingkan daya absorpsi pati pada nasi yang memerlukan waktu berjam-jam. ltulah sebabnya kurma merupakan makanan yang sangat baik untuk berbuka puasa karena dapat menyuplai asupan energi secara cepat.

Kandungan gula kurma sebagian besar merupakan gula-gula monosakarida, sehingga mudah dicerna oleh tubuh. Gula yang terdapat di dalam kurma yaitu berupa glukosa dan fruktosa. Pada sebagian varietas kurma tertentu, juga terdapat gula sukrosa. Kandungan gula pada kurma sangat tinggi, sekitar 70 persen, yaitu 70-73 gram per 100 gram kurma. Meskipun mengkonsumsi kurma sebagai makanan pembuka pada saat berbuka puasa dianggap baik, namun untuk penderita diabetes melitus tidak boleh terlalu banyak mengonsumsi kurma. Kandungan gula monoskarida yang cukup tinggi dapat meningkatkan kadar gula darah secara cepat.

Kandungan karbohidrat pada kurma berkisar sekitar 60% pada ruthab (kurma basah) - dan 70% pada tamr (kurma kering), 20% protein, 3% lemak dan sisanya merupakan zat garam mineral dan besi. Kebanyakan varietas kurma mengandung gula glukosa (jenis gula dalam darah) dan fruktosa (jenis gula yang terdapat dalam sebagian besar buah-buahan).

Kurma mengandung vitamin yang cukup tinggi. Vitamin di dalam buah kurma dapat meningkatkan kebasaan lambung yang terlalu asam setelah 13-14 jam tidak memperoleh makanan dan minuman. Dalam setiap 100 gr kurma kering terkandung vitamin A sebesar 90 IU, tiamin 93 mg, riboflavin 114 mg, niasin 2 mg dan kalium 667 mg. Zat-zat gizi itu berfungsi membantu melepaskan energy, menjaga kulit dan syaraf agar tetap sehat serta penting untuk fungsi jantung.

Kurma juga mengandung serat pangan (dietary fiber) cukup tinggi, yaitu 2,2 gram per 100 gram. Serat pangan mempunyai manfaat untuk menurunkan kadar kolesterol dalam darah dengan menghambat penyerapan lemak atau kolesterol di dalam usus besar, sehingga kadar kolesterol dalam darah tidak meningkat.

Dalam kurma juga terdapat asam salisilat yang biasanya digunakan sebagai bahan baku aspirin. Asam salisilat bersifat mencegah pembekuan darah, antiinflamasi (radang), dan menghilangkan rasa ngilu maupun nyeri. Selain itu, asam salisilat ini dapat mengendalikan hipertensi dengan mengatur kadar prostaglandin yang turut berperan dalam proses tekanan darah.

Kalium (potasium) merupakan komponen gizi mineral yang mempunyai jumlah yang sangat signifikan pada kurma. Di dalam 100 gram kurma terkandung 666 mg kalium dan natrium hanya 1 mg, sehingga rasio kalium terhadap natrium 666:1. Kandungan kalium yang tinggi pada kurma akan memperlancar pengiriman oksigen ke otak dan membantu memperlancar keseimbangan cairan tubuh. Dengan demikian, konsumsi kurma yang kaya kalium akan membuat otak tetap encer di saat berpuasa dan tubuh selalu dalam keadaan bugar. Anggapan bahwa berpuasa membuat malas dan lemas dapat dihilangkan dengan memperbanyak konsumsi kurma.

Penulis:

Aminatun Mu'minah - Konsultan QHSE Sinergi Solusi Indonesia

Sources:

1.       Anton Rahmadi. 2010. Kurma. Food Technologist, Neuro-biologist and Pharmacologist. University of Mulawarman, Samarinda, INDONESIA. Campbelltown (NSW), 12 Agustus 2010 - 2 Ramadhan 1431.

2.       Zulfan Afdhilla. 2014. Kandungan Nutrisi dalam Kurma. http://www.zulfanafdhilla.com/2014/10/kandungan-nutrisi-dalam-kurma.html