Berita K3

Rasanya kurang lengkap jika bulan Mei-Juni ini kita lewatkan tanpa sebuah bahasan tentang kata “PENDIDIKAN”. Saat ini alokasi dana pendidikan dari pemerintah adalah sebesar 20% dari APBN (Anggaran Pendapatan Belanja Negara), tetapi perhatian pemerintah masih minim terkait Pendidikan Siaga Bencana di sekolah. Padahal beberapa negara lain sudah memasukkan Pendidikan Siaga Bencana ke dalam kurikulum pendidikan dasar dan menengah diantaranya adalah Bangladesh, Iran, India, Mongolia, Filipina, Turkey dan Tonga.

Jelas saja Pendidikan Siaga Bencana ini penting bagi seluruh lapisan masyarakat indonesia, terutama mengenalkannya sejak dini di sekolah. Karena indonesia termasuk dalam negara yang paling rawan terkena bencana alam di dunia demikian menurut United International Strategy for Disaster Reduction (UNISDR; Badan PBB untuk Strategi International Pengurangan Resiko Bencana). Berbagai bencana alam mulai gempa bumi, tsunami, letusan gunung berapi, banjir, tanah longsor, kekeringan, dan kebakaran hutan rawan terjadi di Indonesia. Belajar dari pengalaman tentang kejadian bencana alam yang besar dan berbagai bahaya yang ada di Indonesia maka dipandang perlu untuk mengajarkan kepada masyarakat indonesia tentang Siaga Bencana, Hal ini dapat dimulai dengan Pendidikan Siaga Bencana pada siswa di sekolah tentang bagaimana menyelamatkan diri mereka saat bencana mengancam dan menghindari kecelakaan.

1. MANAJEMEN BENCANA

Bencana adalah peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan baik oleh faktor alam atau faktor nonalam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis. Sedangkan Mitigasi bencana adalah serangkaian upaya untuk mengurangi risiko bencana, baik melalui pembangunan fisik maupun penyadaran dan peningkatan kemampuan menghadapi ancaman bencana. (UU No. 24/2007 ttg PB, Pasal 1, Ayat 9).
“Bencana tidak dapat dihindari, akan tetapi dapat dikurangi damapk negatif atau risiko bencananya”

Agar mengurangi risiko bencana, maka kita harus dapat mengelola bencana tersebut. Konsep pengelolaan bencana telah mengalami pergeseran paradigma dari pendekatan konvensional menuju pendekatan holistic (menyeluruh). Pandangan konvensional menganggap bencana merupakan suatu peristiwa atau kejadian yang tidak dapat dielakkan dan korban harus segera mendapatkan pertolongan. Oleh karenanya, fokus dari pengelolaan bencana dalam pandangan konvensional lebih bersifat bantuan (relief) dan kedaruratan (emergency). Orientasi dari pandangan konvensional adalah pada pemenuhan kebutuhan darurat berupa pangan, penampungan darurat, kesehatan, dan penanganan krisis. Tujuannya adalah menekan kerugian, kerusakan dan secepatnya memulihkan keadaan pada kondisi semula. Pandangan yang berkembang selanjutnya adalah paradigma mitigasi, yang tujuannya lebih diarahkan pada identifikasi daerah-daerah yang rawan bencana, mengenali pola-pola yang dapat menimbulkan kerawanan, serta melakukan tindakantindakan mitigasi, baik yang bersifat struktural maupun non-struktural.

Manajemen resiko bencana merupakan ilmu pengetahuan yang terkait dengan upaya untuk mengurangi resiko, yang meliputi :

1.    Tindakan persiapan sebelum bencana terjadi bencana
2.    Dukungan, dan pembangunan kembali masyarakat saat bencana terjadi.

Secara umum, pengelolaan bencana merupakan proses terus menerus yang dilakukan oleh individu, kelompok dan komunitas dalam mengelola bahaya sebagai upaa untuk menghindari atau mengurangi dampak akibat bencana. Tindakan yang dilakukan bergantung pada persepsi terhadap resiko yang dihadapi. Efektifitas pengelolaan bergantung pada keterpaduan seluruh elemen, baik pemerintah maupun nonpemerintah. Aktivitas pada setiap hirarki.

2. PENDIDIKAN PENGURANGAN RESIKO BENCANA DI SEKOLAH
Saya agaknya sepakat jika beberapa orang mengatakan pendidikan merupakan investasi yang sangat berharga. Pendidikan itu dapat merubah dan membentuk pola pikir yang baik untuk kehidupan masyarakat. Untuk itu alangkah baiknya jika program Pendidikan Siaga Bencana serta implementasinya mulai dikenalkan dan dilatih sejak dini untuk siswa sekolah, agar anak sekolah tahu cara menyelamatkan diri ketika terjadi bencana.

Pengupayaan kesiapsiagaan sekolah terhadap bencana merupakan perwujudan dari Rencana Aksi Nasional Pengurangan Risiko Bencana (RAN PRB) 2010-2012 (Prioritas 5) yang merupakan penerjemahan dari Prioritas 5 dalam Kerangka Kerja Aksi Hyogo 2005-2015, yaitu memperkuat kesiapsiagaan terhadap bencana untuk respon yang efektif disemua tingkatan masyarakat. Selain itu, dalam konteks pendidikan pengurangan risiko bencana, konsep dasar ini merupakan perwujudan dari Kerangka Kerja Hyogo 2005-2015, Prioritas 3 (tiga), yaitu menggunakan pengetahuan, inovasi dan pendidikan untuk membangun sebuah budaya keselamatan dan ketahanan di semua tingkat. Dengan demikian, konsep sekolah siaga bencana tidak hanya terpaku pada unsure kesiapsiagaan saja, melainkan juga meliputi upaya-upaya mengembangkan pengetahuan secara inovatif untuk mencapai pembudayaan keselamatan, keamanan, dan ketahanan bagi seluruh warga sekolah terhadap bencana.

Karena Indonesia menjadi salah satu negara yang rawan bencana alam, indonesia harus mempunyai standar penanganan yang baik terhadap dampak bencana alam. Semakin masyarakat siap dengan bekal Pendidikan Siaga Bencana, makan semakin cepat tanggap terhadap bencana.

Penulis: Gigih Wahyu Akbar dan Muhammad Arief

Referensi :
•    PENGEMBANGAN MODEL SEKOLAH SIAGA BENCANA MELALUI INTEGRASI PENGURANGAN RISIKO BENCANA DALAM KURIKULUM, Oleh : Akbar K Setiawan
•    Pendidikan Siaga Bencana Gempa Bumi Sebagai Upaya Meningkatkan Keselamatan Siswa, Oleh: Dr. Krishna S. Pribadi, DEA dan Ayu Krishna Yuliawati,S.Sos.,Mm
•    http://abraham4544.wordpress.com/umum/problematika-pendidikan-di-indonesia/
•    http://asepmahpudz.wordpress.com/2014/01/30/pendidikan-siaga-bencana/
•    http://dibi.bnpb.go.id:8080/DesInventar/dashboard.jsp?countrycode=id&continue=y&lang=EN