Berita K3

Menteri Ketenagakerjaan Hanif Dhakiri membuka kegiatan Bulan K3 Nasional Tahun 2019 dengan tema “Wujudkan kemandirian masyarakat indonesia berbudaya keselamatan dan kesehatan kerja (K3) untuk mendukung stabilitas ekonomi nasional”.
Keselamatan kerja menjadi isu yang sangat penting tidak hanya terkait dengan produktivitas tenaga kerja dan perusahaan. Lebih dari itu, isu K3 terkait dengan upaya untuk memanusiakan dunia kerja, maksudnya adalah mewujudkan nilai-nilai kemanusiaan dalam seluruh proses interaksi pekerjaan dan lingkungan pekerjaan.

Interaksi pekerjaan dan lingkungan pekerjaan menjadi budaya dalam industri nasional dan tentu saja akan semakin tinggi tingkatnya. Dengan demikian masyakarakat Indonesia tidak hanya membangun sektor ekonomi saja tapi juga membangun peradaban dunia pekerjaan. Bangsa yang beradab adalah bangsa yang sejahtera lahir dan batinnya

Dalam empat tahun terakhir pemerintah terus meningkatkan penerapan K3 disemua tempat dan lingkungan pekerjaan. Penguatan regulasi K3, pembinaan pelaksanaan K3 di perusahaan, pengawasan dan penegakan hukum ketenagakerjaan dibidang K3 hingga sosialisasi budaya K3 kepada seluruh pemangku kepentingan dunia kerja


Semua pihak baik aparatur pemerintah, pengusaha, manajemen pekerja dan serikat pekerja serta masyarakat secara umum memiliki tanggung jawab untuk membuat K3 menjadi budaya bersama.

“Pekerjaan bapak ibu sangat penting tapi, keselamatan dalam pekerjaan itu lebih penting, beban kerja tidak boleh berisikokan keselamatan pekerjaan” ujar Hanif Dhakiri saat membuka kegiatan Bulan K3 Nasional di Istora Senayan, Jakarta, Selasa (15/01).

Lingkungan kerja tidak boleh membahayakan kesehatan dan keselamatan kerja manusia. Produktivitas jelas penting tapi mengejar produktivitas tidak boleh merisikokan keselamatan dan kesehatan pekerjaan. Menurutnya produktivitas tentu saja dapat digenjot seiring dengan peningkatan kualitas K3 disetiap tempat kerja.

Masalah K3 di Indonesia masih menjadi perhatian bersama secara serius, beliau meminta kepada seluruh perusahaan dan seluruh masyarakat untuk mendorong kegiatan yang benar-benar bisa mewujudkan memanusiakan manusia, yaitu dengan menerapkan sistem K3 secara baik. Hal tersebut tentunya tidak hanya untuk memenuhi compliance, ataupun menunjukan tanggung jawab sosialnya kepada masyarakat sekitar tetapi memiliki tujuan utama, yaitu mendorong perusahaan-perusahaan dapat tumbuh dan berkembang menjadi perusahaan-perusahaan yang memanusiakan manusia

“Perusahaan-perusahaan yang memanusiakan manusia tentu saja perusahaan yang memenuhui standar K3 benar-benar baik dan berkualitas. Perusahaan yang memenuhui standar K3, manajemen K3, bukan semata karena diaudit, bukan semata karena atasan datang untuk inspeksi perusahaan melakukan itu sebagai bagian dari proses produksi barang dan jasa yang mengedepankan keselamatan dan kesehatan kerja”, tambahnya.

Para pekerja dan serikat pekerja diharapkan untuk selalu menggelorakan budaya K3 di lingkungan kerja masing-masing. Dari 131 juta angkatan pekerja nasional, sekitar 58% masih didominasi oleh lulusan Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP). Kegiatan sosialisasi mengenai budaya K3 menjadi sangat penting karena diharapakan para pengusaha, pemerintah dan pekerja sadar mengenai K3 agar dapat melakukan penegakan hukum secara benar, baik dalam pembinaan, pengawasaan atau pun penegakan hukum dibidang kesehatan dan keselamatan kerja.

Melihat dunia saat ini yang berubah begitu cepat, tantangan dan risiko yang muncul juga begitu banyak tentulah harus diantisipasi secara baik. Dengan adanya kerjasama seluruh stakeholder, pemerintah dan serikat pekerja dapat terus menggelorakan budaya K3 sebagai bagian dari etika bersama.

Hanif mengajak para stakeholder, pengusaha, dan masyarakat untuk terus melakukan terobosan-terobosan menentukan pemanfaatan terhadap teknologi dalam rangka optimalisasi dari pembinaan dan pengawasan mengenai keselamatan dan kesehatan kerja.

Saat ini industri dihadapkan pada tantangan revolusi industri 4.0. Digitalisasi industri berpengaruh pada relasi kerja, tata kerja potensi bahaya di perusahaan. Pada kesempatan tersebut Hanif Dhakiri berharap agar semua pihak terus melakukan upaya untuk meningkatkan pelaksanaan K3, sehingga budaya K3 benar-benar terwujud disetiap lingkungan kerja.

Pembukaan Bulan K3 Nasional Tahun 2019 ini berbeda dengan tahun sebelumnya. Menariknya kegiatan ini menampilkan safety performance dari Perusahaan Gas Negara (PGN) dalam bentuk olah tubuh (dance).

Kegiatan pembukaan Bulan K3 Nasional ini juga dihadiri oleh Direktur Kepesertaan E. Ilyas Lubis, Deputi Direktur BPJS Ketenagakerjaan Wilayah DKI Jakarta Achmad Hafiz, serta sejumlah Kepala Kantor Cabang BPJS Ketenagakerjaan.

Rangkaian lainnya diisi dengan pemberian Alat Pelindung Diri (APD) secara simbolik kepada pekerja dengan harapan menjadi pengingat bagi pekerja untuk dapat selalu bekerja sesuai dengan aturan K3 yang berlaku.